Tips Memiliki Wajah Yang Sempurna

Sebuah unggahan foto di instagram seorang kawan berhasil memicu beragam komentar yang kemudian berbuntut sebuah perbincangan panjang. Biasanya, Indra (bukan nama sebenarnya) lebih suka mengunggah foto-foto panorama alam hasil dari kegemaran traveling yang biasa ia lakukan setiap bulan. Tiba-tiba saja ia mempublikasikan sebuah foto selfie pada suatu pagi ketika dia bahkan masih berbaring di atas tempat tidur. Pada kolom bawah foto, tertulis komentar pertama, “Ada yang beda nih.” Komentar itu disambut oleh sebuah komentar lain, “Iya, ada yang beda. Kurusan ya?”. “Hidungnya lebih mancung ya sekarang,” bunyi komentar dari seseorang. Setelah kira-kira lebih dari 10 orang berkomentar, sang pemilik akun pun akhirnya memberikan sebuah jawaban, “Iya, ini hidung baru, hasil rhinoplasty.

Tips Memiliki Wajah Yang Sempurna

”Selang beberapa hari kemudian, Esquire secara tak sengaja bertemu dengan Indra di sebuah kesempatan. Ketika diamati dengan lebih seksama, memang ada perubahan yang terasa pada bentuk wajahnya. Hidung Indra terlihat lebih mancung. Ketika dikonfirmasi lebih lanjut, sang pemilik hidung hanya senyum-senyum saja. “Operasinya sakit nggak sih? Berapa lama?” tanya kami. “Ini rhinoplasty yang tanpa bedah. Proses penyembuhannya juga cepat kok,” jawabnya sambil kemudian tertawa.

Sebenarnya, sudah sejak lama Indra ingin mengoreksi bentuk hidungnya yang digolongkan oleh orang-orang masuk dalam kategori “pesek”. Namun, karena takut dengan efek samping yang bisa muncul akibat prosedur bedah kosmetik, dia terus saja mengurungkan niatnya. “Setelah tahu kalau di Jakarta ada prosedur rhinoplasty tanpa bedah yang aman, baru deh akhirnya gue berani,” ujar pria berusia 32 tahun yang bekerja di sebuah Bank BUMN itu.

Terpicu rasa penasaran yang besar, Esquire kemudian menelusuri lebih lanjut metode rhinoplasty non-invasif tersebut. “Pada dasarnya, rhinoplasty berasal dari kata “rhinos” yang berarti hidung dan “plasty” bermakna operasi. Tetapi layanan rhinoplasty yang tersedia di klinik kami ini tanpa bedah, dan sebenarnya prosedur seperti ini sudah banyak dilakukan di dunia,” ungkap dr. Olivia Ong, dipl. AAAM.

dokter estetika yang memiliki klinik di daerah Gunawarman, Jakarta Selatan. diakuinya lebih lanjut, pasien pria yang menjalani prosedur bentuk koreksi hidung itu sudah mencapai sekitar 20% dari jumlah pasiennya. Belakangan, jumlah ini bahkan semakin bertambah. “Metode ini juga tidak mengenal batasan usia. Karena bahan yang digunakan termasuk alami untuk hidung setiap manusia, asalkan kadarnya disesuaikan dengan indikasi usia pasien,” tambahnya. Menurut dr. Olivia, banyak pasien yang datang padanya untuk melakukan metode rhinoplasty ini dilatarbelakangi tujuan memperbaiki penampilan.

Tujuan itu juga yang ingin direalisasikan oleh sebagian besar kaum pria. “Selain karena ada tuntutan untuk mendapatkan penampilan yang prima, ada juga beberapa sebab lain. Misalnya beberapa pasien yang ingin mengoreksi bentuk hidungnya karena baru saja mengalami kecelakaan,” tutur dr. Olivia. Salah satu faktor penting yang harus dilalui setiap pasien rhinoplasty noninvasif adalah sesi konsultasi bersama sang dokter. Hal ini disebabkan adanya perbedaan antara bentuk wajah pria dan wanita.

Antara karakter wajah pria yang satu dengan yang lain pun juga berbeda. dokter biasanya akan melihat kondisi wajah pasien dari berbagai sudut pandang dan berbagai ekspresi. Setelah itu, baru akan ditentukan seberapa besar proses perubahan yang cocok untuk ditempuh setiap pasien. Setelah mengadakan beberapa kali tahap konsultasi dengan pasien dan telah menemukan titik terang, dokter kemudian akan melaksanakan prosedur rhinoplasty non-invasif itu.

Awalnya, dokter akan membersihkan bagian hidung pasien. Setelah itu, hidung akan difoto. Ini dilakukan sebagai bahan perbandingan untuk gambaran hidung sebelum dan sesudah menjalani prosedur yang ditentukan. Bagian hidung pasien lalu akan diolesi krim dan didiamkan selama 30 menit. Setelah kering, hidung kembali dibersihkan agar bisa dilakukan proses penyuntikan. Penyuntikan filler dilakukan hanya pada satu titik bagian hidung dan tidak bertubi-tubi agar pasien tidak merasakan sakit.

Dalam melakukan prosedur tersebut, dr. Olivia membutuhkan perlengkapan yang tidak banyak, hanya filler dan canula tumpul (jarum yang memiliki ujung tumpul yang digunakan untuk menyuntikkan filler pada satu titik). “yang paling penting dan sangat menentukan adalah kemampuan dokter itu,” kata dr. Olivia. Selama menjalankan prosedur rhinoplasty non-invasif ini, belum ada pasien dari dr. Olivia yang mengeluhkan munculnya efek samping akibat prosedur tersebut. “Sejauh ini baik-baik saja.

Di sini, kami melakukan setiap prosedur dengan sangat teliti. Bila ada pasien yang menginginkan hidungnya menjadi lebih mancung, padahal hidung normalnya terlihat pesek, kami akan melakukannya secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan tidak sembarangan memberikan filler dengan dosis yang banyak.” Jika pada proses rhinoplasty pertama sang pasien sudah mendapatkan bentuk hidung seperti yang diinginkan, maka tidak perlu melakukan prosedur lagi. Namun jika masih belum puas dan ingin melakukan lagi, sang pasien harus menunggu sekitar enam bulan untuk prosedur pengulangan atau tahap berikutnya.