Menanti dalam Ketidakpastian

Gayanya seperti penya- nyi yang sering muncul rap Afro Amerika di televisi. Alamudi, atau akrab dipanggil Alex, 18 tahun, berkacamata hitam serta menggunakan setelan celana putih dan jas putih bermotif kembang-kembang. Sedangkan Hamza, 24 tahun, hanya mengenakan celana jins dan kaus berwarna gelap. Mereka menyanyikan beberapa lagu rap, salah satunya berjudul Pondok Cina, tentang pertemuannya dengan seorang gadis di daerah Pondok Cina, Depok, Jawa Barat. Dave Lumenta, pengajar di Universitas Indonesia, dan beberapa musikus lain mengiringi kedua anak muda itu menyanyi.

Beberapa gadis Ethiopia, kawan mereka pun terlihat gembira. Mereka berbaur dengan penonton yang bergoyang menikmati nyanyian mereka di halaman tengah Goethe-Institute Jakarta, Selasa, 17 Juli lalu. Alex dan Hamzah sering dikira sebagai pemuda Papua. Sejatinya mereka adalah para pengungsi dari Ethiopia. Mereka datang ke Indonesia tiga tahun lalu. Keduanya cukup beruntung bisa membunuh sepi serta menumbuhkan harapan atas ketidakpastian hidup mereka dengan musik. Mereka bisa mengembangkan bakat menyanyi dan bermusik setelah bertemu dengan Dave Lumenta.

baca juga : http://hireupdesigner.com/pusat-genset-terlengkap-di-jakarta-dan-bali/

Bahkan Baron, mantan personel GIGI, pun terlibat dalam musik mereka. Kisah tentang kedua anak muda yang terkatung-katung di Indonesia mencari negara ketiga ini didokumentasikan dalam film karya Betharia Nurhadist dan Indrawan Prasetyo. Film ini diputar di Goethe-Institute Selasa lalu. Melalui film berjudul Performing Out of Limbo ini, Betharia memperlihatkan sepotong harapan dan kegiatan para pencari suaka yang tinggal di Depok itu. Kedua remaja ini semula tak saling kenal meski sama-sama datang dari Ethiopia karena konflik kemanusiaan dan kekerasan.

Mereka mengaku datang seperti penyelundup. Kini mereka tinggal mengontrak sebuah rumah. Hamza yang menulis lirik-lirik lagu yang mereka nyanyikan bersama tim Dave di kampus. “Dia yang menulis, dia panutan saya. Lagu tentang hidup, lagu yang menghibur,” ujar Alex. Mereka senang hidup di sini, berbaur dan mengembangkan bakat musik mereka. “Tentu kami punya harapan untuk lebih baik bisa pergi ke negara yang kami tuju. Tapi di sini pun kami senang,” tuturnya.

Sebelum bermusik, mereka tak punya kegiatan yang jelas, paling hanya ke warung Internet. Sebab, aturan dari kantor Imigrasi melarang mereka bekerja. Mereka harus hidup dengan impian dan harapan yang makin menipis dari hari ke hari digerogoti ketidakpastian. Sementara Hamza dan Alex bisa bernyanyi dan bermusik, lain lagi nasib Yama dan Mostafa. Para pemuda itu berharap bisa menemukan hidup baru di Australia setelah meninggalkan tanah kelahirannya di Afganistan yang diamuk konflik. Yama, 34 tahun, yang karismatik, tiba di Makassar pada 2014.

Ia sudah lancar berbicara dalam bahasa Indonesia, bahkan dengan dialek Makassar. Kisah Yama dan Mostafa didokumentasikan dalam film berjudul Respite karya Andrianus Oetjoe. Film ini memperlihatkan betapa mereka frustrasi tinggal di rumah detensi di Makassar. Mereka tak punya kesibukan, ingin bekerja tapi tak bisa. Apalagi belakangan aturan di rumah detensi makin ketat. “Seperti hidup di penjara,” ujar Yama dengan muka sedih. Matanya berkaca-kaca ketika melihat berita seorang pencari suaka lain yang dia kenal.

Mostafa, yang usianya masih belasan tahun, cukup beruntung melepas beban dengan ikut bermain bola di sebuah klub lokal. Ia sering menyumbangkan gol kemenangan untuk timnya. Ia hidup dengan kedua orang tuanya di rumah detensi itu. Pemuda ini sengaja memelihara kenari dan merpati untuk hiburan. Tak hanya untuk menghibur dia, tapi juga kedua orang tuanya. Beruntung mereka juga punya beberapa teman warga lokal yang bisa menjadi sahabat bercurah rasa.

Andrianus Oetjoe mendokumentasikan upaya mereka memperjuangkan nasib. Dari unjuk rasa di kantor Imigrasi setempat sampai kegiatan Yama dan Mostafa. Melalui mata kameranya, dengan artistik Oetjoe menganalogikan hidup mereka dengan burung kenari yang bernyanyi di sangkar. Dari film ini, penonton diajak melihat nasib dan kehidupan para pengungsi dari berbagai negara.

Indonesia memiliki tak kurang dari 14 ribu pengungsi yang ingin menuju negara lain, seperti Australia atau Amerika Serikat, melalui program penempatan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Mereka bertahun-tahun menunggu kepastian, tumbuh di negara ini, bersahabat, bahkan jatuh cinta kepada warga setempat.

Tapi mereka tak bisa tinggal selamanya karena Indonesia tidak menandatangani Konvensi Pengungsi 1951 sehingga Indonesia tidak bisa menerima pengungsi. Mereka hanya bisa singgah sementara sambil berharap dan menanti bisa hidup tenang di negara yang mereka damba.